Wednesday, December 14, 2011

You Always There


It still just for you someone who always there on my mind and heart.

Yup, its you!!

Why I can be like this, is it worth if I'm blaming you?
I realize that it's so hard to lie to my heart.
Sometime that I wanna think logic by listen to the voice on my head,
But at that time my heart also cry so hard, and said that I hurt my self.

Hey my dearest heart, why you become so week.
And the voice on my head, why you let my heart crying?
I know, you know the exactly what I want.
Yeah, I just too afraid and confuse.

But the one that I realize that I want him so much! Just him.

Published with Blogger-droid v2.0.1

Saturday, December 10, 2011

Sometimes, Listen Your Mind

Lagi-lagi siang ini langit dipenuhi awan,
hujan pun terus membasahi tanah, ya lengkap dengan petir yang bergemuruh.

Sabtu, dimana seharusnya setiap orang menikmati weekendnya dengan berjalan-jalan,
sedangkan aku hanya berdiam diri dikamar, memperhatikan layar notebook,
sementara headphone ku terus mengalunkan lagu-lagu yang totally mellow.
sambil sesekali aku melihat keluar jendela, ya mereka menari, hujan menari seperti biasa.
Kali ini aku tidak membuka jedela, aku tak akan membiarkan mereka masuk.

"Aku sedang ingin sendiri!" Jeritku dalam hati, seketika aku mengalihkan pandangan dari jendela.
Pikiranku bermain, mereka berisik, mereka berteriak-teriak memenuhi setiap rongga di kepalaku.
Ditambah musik yang slow memenuhi rongga telingaku,
hati ku juga menggeram, "aku tidak suka begini!" bisiknya.
Tapi apa yang dapat ku lakukan sekarang? Tidak ada, karena aku tidak berniat melakukan apa-apa.

Seakan hatiku ingin memberontak, dia ingin menangis sekeras-kerasnya,
tapi pikiranku melarang, dia tak akan membiarkan setetes air mata pun mengalir,

"Jangan tangisi, tapi lakukanlah sesuatu!" bentaknya padaku.
"Aku benar-benar tidak kuat begini," isak hatiku.
"Kali ini dengarkan aku, kau bisa melakukan apapun, kau bisa merubah dan memperbaiki semuanya! Berhentilah dengan keluhanmu!" seru pikiranku, dia ingin selalu menguatkan hatiku yang sedang lemah.

Mungkin kalian akan berifikir ini aneh, tapi ini jujur,
mereka berbicara dan aku mendengarkannya dengan jelas. :D

Wednesday, December 7, 2011

Langit Biru dan Awan

Sore ini aku tak melihat cahaya mentari di langit itu, bahkan langit biru yang indah itu pun tak ada,
Sekumpulan awan bersatu, menutup birunya langit dan mentari.
Setiap sore, ya seingatku begitu,
Awan itu seakan-akan seperti seorang ibu yang menyuruh anak-anaknya mandi disore hari,

Anak-anak? Ya maksudku langit biru itu,
setiap melihat langit biru yang polos aku selalu teringat masa kecil yang penuh kesederhanaan,
aku bermain, berlari-lari, dan tertawa di lapangan yang ditumbuhi ilalang,
saat itu selalu cerah, karena setiap bermain aku dan teman-temanku selalu mengaggumi indahnya langit biru itu.
Setiap sore, para ibu selalu mencari dan menyuruh kami mandi sore,
tentu saja kami menolak untuk pulang, karena masih ingin bermain,
tak jarang salah satu temanku menangis, 
tapi dengan sabar sang ibu menjanjikan kalau besok kami bisa bermain lagi.
Akhirnya kami semua sepakat untuk pulang dan janji akan bermain lagi keesokan harinya.

Nah, awan yang ku maksud adalah seperti itu. Awan mendung yang memberikan keteduhan.
Seperti layaknya seorang ibu yang selalu memberikan keteduhan.
Mungkin sore ini, awan sedang menyuruh langit mandi, dan langit ngambek dan menangis,
tangisannya bagaikan hujan yang turun sore ini, hentakan kaki mereka bagaikan petir yang menyalak.
Angin yang menderu saat itu bagaikan raungan pilu tangisan mereka.

Pasti saat ini awan sedang membelai mereka dengan penuh kasih sayang,
membujuk mereka agar berhenti menangis, bersenandung,
Seketika hujan reda, dan langit kembali cerah, walau dengan mata yang sembab.

Thursday, December 1, 2011

My December, My Memory

"this is my December, this is my time of the year."
"this is my December, this is all so clear."

Yang menebak itu lagunya Linkin Park, benar!
Lagu itu seakan membuka kembali memori lama, tepatnya ketika aku SMP.
Masa-masa remaja itu memang paling indah, apalagi saat SMP, disaat puberitas, masa menemukan jati diri.
Masa tidak pernah mengenal istilah capek, takut, dan hanya menikmati saat-saat bermain.

Aku ingat pada masa itu aku adalah seorang anak perempuan yang tomboy,
memakai baju yang serba gombrang, kaos oblong hitam, ya aku sangat ingat isi lemari ku yang hanya berisi kaos-kaos hitam, jeans belel, celana pendek, kaus kaki, sepatu basket, ya semua yang dipakai oleh anak laki-laki.
Bukan hanya pakaian, bahkan aku mengikuti ekstra kulikuler basket, tiada hari tanpa basket, panas terik matahari Pekanbaru sudah menjadi santapan sehari-hari untukku.
Pergi sekolah jam 6.30 pagi dan pulang jam 6.30 sore, itu menjadi hal yang sangat biasa untukku.
Apa yang aku lakukan selama 12 jam itu di sekolah selain belajar? Basket!
Ya aku mengabdikan diriku pada kegiatan yang membiasakanku berbaur dengan terik dan keringat itu selama hampir 3 tahun. Bisa kalian bayangkan bagaimana keadaanku sepulang sekolah,
Ya bau matahari, kulit terbakar matahari, pulang tidak lagi memakai seragam sekolah melainkan kaos belel dan celana pendek, serta tak lupa bola basket Chicago Bulls kuning kesayanganku yang merupakan pemberian dari papa.

Aku sendiri suka merasa heran, karena tak ada sedikitpun rasa capek yang aku rasakan pada saat itu,
setiap hariku hanya semangat untuk kesekolah dan bermain basket,
oh baiklah aku lupa, alasan dibalik basket itu sebenarnya adalah ngecengin senior basketnya, hahaha
ayo ngaku, siapa yang punya pengalaman sama denganku.
Latihan basket setiap hari, bahkan membawa bola basket kemana-mana hanya untuk menarik perhatian para senior basket hingga kaptennya,
Jika mengingat itu aku hanya tersenyum sendiri, ya Tuhan norak memang, aku juga mengakuinya.

Masa SMP itu lebih bermakna bagiku, karena pada saat itu hidupku hanya bermain, basket, dan mencari eksistensi diri, memperbanyak teman. Ya itu yang terpenting, karena teman adalah segalanya untukku.
Dan Kelas 2.8, adalah kelas terakhir di sekolahku. Biar saja kelas lain menganggap kelasku ini kelas terakhir, tapi kenangan yang ku dapatkan disana mungkin tidak akan pernah ku dapat jika berada di kelas lain di sekolah itu.
Ngeliatin kakak kelas yang mondar mandir di depan kelas, di jemur 2 kali satu kelas, dimarahi guru seakan-akan hal itu bukan menjadi mimpi buruk lagi.
Pada saat kelas 2 itu lah saat aku dan teman-temanku saling bersaing untuk memperoleh popularitas, mencari teman sebanyak-banyaknya disemua kelas, hingga mengikuti ekstra kulikuler yang paling populer.

Ya Tuhan, jujur saja aku ingin mengulang masa SMP itu, hmm baiklah, mungkin saat bermainnya saja bukan belajarnya, haha
tapi belajarnya juga sangat penting, mengingat aku dulu pernah divonis tidak lulus SMP!
Jadi sekarang aku hanya ingin berpesan, seindah apapun dan semenyenangkan apapapun masa SMP, tetap belajar lah yang seharusnya menjadi prioritas, karena akan lebih baik jika kita mendapatkan popularitas dengan otak yang berisi dan dapat dibanggakan.

Aku juga sangat ingin bersyukur dan berterimakasih kepada semua yang menciptakan kenangan SMP yang terindah itu, kepada Tuhanku yang memberikan semua itu, kepada orang tuaku yang memberikan kepercayaan padaku dan memberikan kebebasan padaku untuk berteman, dan tentunya teman-temanku, karena tanpa mereka kenangan itu tak akan pernah ada dan tak akan pernah seindah ini.

Tuesday, November 29, 2011

Ucapan VS Kenyataan

Siapapun pasti pernah mengalami hal ini, ya ucapan yang nggak sesuai dengan realitanya,
mungkin bukan tentang diri sendiri, mungkin juga orang sekitar kita, karena jujur ini juga pengalaman ku dan beberapa orang.

(Maaf banget kalau ada yang tersindir dengan tulisan ini, ya namanya juga lagi belajar menulis :) )

Sebenarnya ini cuma buat pertimbangan aja ya, terkadang kata-kata ataupun seruan yang terucap itu sering berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada.
Entah untuk apa tujuannya juga tak ada yang tau, mungkin saja itu memang jujur, cuma emosi, optimis, atau mungkin hanya untuk menutupi kelemahan. Alasan sebenarnya yang tau hanya diri sendiri,

Ada yang bilang seperti ini:
- yakin tapi sebenarnya tidak yakin
- bisa tapi sebenarnya tidak tau apa-apa
- mau tapi sebenarnya terpaksa
- benci padahal sebenarnya sayang
- rela tapi tak bisa merelakan 100%
- kuat tapi ternyata lemah
- tertawa tapi dalam hatinya menangis (seperti lagu Agnes Monica)
- yang katanya gaul tapi ternyata kuper
- gaya tapi ternyata malah tak percaya diri
- ngakunya anak orang kaya ternyata pas-pasan
- bergaya hidup mewah padahal kekurangan
- ngakunya punya pacar di luar negri ternyata cuma pacar khayalan

Masih banyak contoh lain mungkin yang kalian dengar di luar sana, tapi berdasarkan pengalaman dan cerita dari teman-teman hal itu yang paling sering,
terkadang aku suka bertanya untuk apa ya mereka melakukan itu?
Mungkin lebih baik jujur dengan keadaan yang sebenarnya, walaupun itu tidak sebaik yang kita harapkan,
tapi sepertinya masih banyak teman-teman dan orang-orang yang lebih menghargai kejujuran itu.

Temanya Air Putih

Kenapa air putih? Ya ternyata itu memang sangat penting,
barusan disalah satu restaurant sushi aku diceramahi habis-habisan oleh teman-temanku.
Kenapa? Ya gara-garanya si air putih ini.
Jujur saja aku tidak menyukai air putih, karena menurutku rasanya "aneh"
Terdengar aneh memang, itu sebabnya aku diceramahi tadi.

Tadi salah satu temanku malah memperlihatkan contoh penyakit yang diderita teman-teman mereka karena jarang minum air putih,
ginjal, maag, kulit kering, muka bengkak dan intinya semua contoh-contoh itu mengerikan. :(
Malah tadi pacarnya sahabatku berniat memperlihatkan temannya yang terserang penyakit itu padaku.
Aku tidak bisa berkomentar apapun,
sebenarnya aku sendiri sadar, dengan aku tidak menyukai air putih ini adalah hal yang salah.

Mereka bilang juga, apalagi dengan gaya hidupku ini, sangat penting untuk mengkonsumsi air putih.
Sekarang mereka mewajibkan ku untuk meminum air yang rasanya aneh itu.
Ya aku tau niat mereka itu sangat baik, itu sebentuk perhatian kecil yang mereka berikan agar aku tetap sehat.

Ahh berat sekali rasanya menelan air putih ini, tapi pasti itu hanya sugestiku saja,
baiklah, dari sekarang, detik ini aku berjanji berusaha mengkonsumsi air putih,
aku beruntung sebenarnya memiliki mereka, teman-temanku, yang selalu mengingatkanku.

Sunday, November 27, 2011

Dress and High Heels Give Spirit for Me

(Pic's source: teamostiletto's blog & dapurweb)

Ketika sedang asik berjalan-jalan di salah satu mall di Bandung, aku mampir ke beberapa toko sepatu yang memajang berbagai macam stiletto dan wedges yang hampir tidak mungkin diabaikan.
Aku dan teman ku dengan mata berbinar penuh kekaguman mencoba semua jenis sepatu yang ada di toko itu sambil berandai-andai,
"Sepertinya keren banget yah kalo nanti kerja kita pake sepatu kaya gini."
"Gaji aku nanti pasti bakal abis cuma buat beli sepatu-sepatu ini."
"Sepatu yang ini kereeeen banget asli!!"
"Ya tuhan ini keren banget kalau dipakai ke award!!" kata salah satu temanku yang terobsesi menjadi istrinya artis, ya mungkin terobsesi menjadi artis juga.
"Kalo kerjaannya gue model sih kayanya bisa punya semua sepatu ini." ujarku
Mendengar semua komentar itu, kamipun tertawa sendiri, sembari meninggalkan toko sepatu.

Kemudian kami menyusuri mall dan masuk ke toko yang menjual baju-baju formal hingga cocktail dress,
kami masih mengaggumi sambil melihat-lihat dress yang digantung di toko itu,
sambil lagi-lagi berkomentar seperti ditoko sepatu tadi,
terkadang juga mencocokkan dress dengan high heels yang kami coba tadi.
Setelah itu kami juga membayangkan menggunakan semua itu ketika candlelight dinner bersama artis idola.
Sungguh sebenarnya itu adalah impian konyol, 
tapi perempuan mana sih yang tak pernah melakukan hal itu?
Walaupun terdengar konyol, tapi hal itu membuat kami bahagia dan bersemangat.
Kami seakan mendapatkan dorongan untuk membuat khayalan konyol itu menjadi kenyataan,
dengan meyakini itu aku dan teman-temanku pun mulai bersemangat mengatur rencana awal,
mulai googling mencari pekerjaan, dan akhirnya malah asik membuka-buka online shop.
aku sebenarnya merasa beruntung menjadi seorang wanita, karena aku tak pernah melihat mereka para lelaki bersemangat seperti wanita jika melihat baju-baju ataupun sepatu.

Dengan itu aku berpendapat bahwa yang menumbukan semangat itu bukan hanya karena ada dorongan dari orang lain, tapi juga bisa melalui hal-hal yang kita sukai,
ya seperti dress, aksesoris, hingga high heels ini.
So girls, teruslah bersemangat!! :)



Royal Wedding

Royal wedding. Ya sekarang pernikahan seperti ini telah menjadi impian setiap perempuan.
Ya tentu aku pun begitu, perempuan mana yang nggak ngiler melihat pernikahan yang megah, meriah seperti itu.
Dengan baju pernikahan rancangan designer ternama, para undangan yang berasal dari kalangan atas, hingga liputan tentang pernikahan yang disiarkan di televisi nasional maupun internasional, serta publikasi yang dilakukan dimedia-media cetak maupun elektronik.

Ayo siapa yang tidak suka dengan segala kemewahan itu?
Momen sekali seumur hidup, ya pernikahan.
Bagi mereka yang single, pernikahan mungkin masih jauh dari bayangan, ya aku juga single,
dan pertanyaan dan cerita-cerita mengenai pernikahan seakan menjadi hal yang ditakuti.
Tapi jujur saja setiap wanita pasti ingin menikah.
Hanya saja saat ini belum menemukan sosok pria yang dianggap baik dan pantas untuk diajak ke hal yang sangat serius, dalam hal ini untuk menikah.
Perlu seseorang yang benar-benar mampu berkomitmen, royal serta memiliki loyalitas yang tinggi, sebenarnya semua perempuan pasti mengidam-idamkan lelaki seperti itu kan.

Apalagi wanita yang memiliki impian memiliki pernikahan yang sangan mewah seperti royal wedding ini, pasti memiliki standar tinggi dalam memillih pria.
Pertanyaannya, apakah rakyat biasa seperti kita bisa membuat pernikahan seperti Royal wedding yang dimiliki oleh anak dari orang-orang ternama ini?
Jawabannya kenapa tidak, selama hal itu sesuai dengan hidup dan gaya hidup setiap orang.
Tapi bagi kita yang memiliki hidup sederhana juga tidak perlu kecewa jika tidak dapat mewujudkan royal wedding ini.
Pernikahan itu menyatukan 2 orang yang berbeda, dan kehidupan itu dimulai setelah pesta pernikahan berakhir.

Menurut ku yang penting bukan seberapa megah dan meriahnya acara pernikahan itu, tetapi bagaimana kita dapat menciptakan hubungan dan kehidupan yang harmonis.

Saturday, November 26, 2011

Simplicity Gives The Happiness

Entah bagaimana bisa mendeskripsikan judul ini, mungkin salah satunya dengan salah satu foto ini,
foto yang sebenarnya aku ambil secara diam-diam dari jendela kamar.

(The simplicity that I can't describe)

Awalnya karna ingin melihat awan sore itu, dan seketika aku terenyuh menyaksikan anak kecil ini yang juga melihat awan sambil bernyanyi yah aku sendiri tidak terlalu jelas mendengarnya.
Aku melihat kebahagiaan dimatanya, di rumah yang sangat sederhana itu sering kali mendengar gelak tawa kecil dan suara sang ibu yang sedang bercerita dan membuat anak ini tak berhenti tertawa,
aku ingin seperti dia, jujur jauh dari orang tua itu sangat berat, kalian pasti bisa membayangkannya.
Tapi ini mau ku untuk tetap berada disini, jadi sebisa mungkin aku tidak akan mengeluh akan hal itu.
Ok! abaikan tentang aku, mari fokus saja pada anak difoto ini.

Dia bukan anak yang diberi kemewahan seperti anak-anak lainnya, tapi dia tidak pernah kekurangan kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya.
Kesederhanaan malah membawa kebahagiaan untuknya, dia memiliki ibu yang sangat ramah,
aku seketika ingat ketika lewat depan rumahnya, si ibu sedang menyapu halaman, dan tersenyum tulus kepadaku, ya walaupun dia tidak mengenalku.
Aku suka keluarga ini, aku tak pernah sekalipun melihat ibu maupun ayah anak ini beteriak marah ketika si anak menangis.

Aku harap kelak dia akan menjadi anak yang pintar, berbakti, nurut pada orang tuanya, dan selalu akan sederhana seperti ini.

"Bolehkah aku iri akan kesederhanaan itu?"
"Ya tentu saja boleh!" kataku.

Tuhan jangan marah padaku, bukannya aku tidak bersyukur, aku hanya kagum pada keserhanaan itu :D

Thursday, November 24, 2011

Bisikan Hujan

Sore ini hujan berhenti,
Sudah beberapa hari terakhir aku tak melihat sinar matahari yang menerobos masuk melalui sela-sela jendela yang ku biarkan hanya ditutupi oleh kertas putih,
Aku sebenarnya sangat mencintai hangatnya sinar mentari itu,
tapi saat ini aku menginginkan dinginnya angin dikala hujan, 
aku berdoa untuk itu sebelum tidur,
benar Tuhan mendengar doa ku, 
aku mendengar hujan berbisik ditelinga ku, memaksa ku bangun untuk menyaksikan mereka menari.
Tak jarang mereka juga menerobos masuk k kamarku melalui ventilasi di atas jendela.
Mereka membangunkanku sekali lagi.

Aku terpaksa bangun dan menyaksikan tarian mereka,
tapi aku terlalu ngantuk, dan menutup mata.
mereka menyadari itu, dan mulai berbisik ditelinga ku, aku hanya tersenyum.
Bisikan hujan semakin jelas ku dengar,
mereka tidak bisa diam dan membiarkan ku melewatkan tarian mereka.

Dan sekarang aku seakan terhipnotis dengan pertunjukan mereka,
hanya dengan sekali bisikan hujan, aku sudah terbangun dan langsung membuka jendela,
melihat mereka menari dan membiarkan beberapa titik ujan membasahi wajahku.