Wednesday, December 7, 2011

Langit Biru dan Awan

Sore ini aku tak melihat cahaya mentari di langit itu, bahkan langit biru yang indah itu pun tak ada,
Sekumpulan awan bersatu, menutup birunya langit dan mentari.
Setiap sore, ya seingatku begitu,
Awan itu seakan-akan seperti seorang ibu yang menyuruh anak-anaknya mandi disore hari,

Anak-anak? Ya maksudku langit biru itu,
setiap melihat langit biru yang polos aku selalu teringat masa kecil yang penuh kesederhanaan,
aku bermain, berlari-lari, dan tertawa di lapangan yang ditumbuhi ilalang,
saat itu selalu cerah, karena setiap bermain aku dan teman-temanku selalu mengaggumi indahnya langit biru itu.
Setiap sore, para ibu selalu mencari dan menyuruh kami mandi sore,
tentu saja kami menolak untuk pulang, karena masih ingin bermain,
tak jarang salah satu temanku menangis, 
tapi dengan sabar sang ibu menjanjikan kalau besok kami bisa bermain lagi.
Akhirnya kami semua sepakat untuk pulang dan janji akan bermain lagi keesokan harinya.

Nah, awan yang ku maksud adalah seperti itu. Awan mendung yang memberikan keteduhan.
Seperti layaknya seorang ibu yang selalu memberikan keteduhan.
Mungkin sore ini, awan sedang menyuruh langit mandi, dan langit ngambek dan menangis,
tangisannya bagaikan hujan yang turun sore ini, hentakan kaki mereka bagaikan petir yang menyalak.
Angin yang menderu saat itu bagaikan raungan pilu tangisan mereka.

Pasti saat ini awan sedang membelai mereka dengan penuh kasih sayang,
membujuk mereka agar berhenti menangis, bersenandung,
Seketika hujan reda, dan langit kembali cerah, walau dengan mata yang sembab.

No comments:

Post a Comment