Sore ini aku dan dua temanku mengunjungi salah satu toko buku yang berada di Jalan Merdeka, Bandung.
Entah mengapa kami seperti tersihir saat memasuki gerbangnya, dan mungkin memang selalu begitu. Toko buku seakan menjadi tempat favorite ku untuk menenangkan diri, walaupun hanya melihat-lihat saja toko buku ini tidak pernah terlewatkan. Selalu ramai pengunjung, mulai dari penggemar komik, novel-novel, hingga buku-buku yang sarat ilmu.
Namun bagiku sudut favorite adalah rak buku yang memuat banyak novel chicklit maupun metropop. Aku dapat menghabiskan waktu berjam-jam berada disana. Membaca sinopsis novel, maupun hanya melihat cover-covernya saja dapat membuatku begitu senang. Dalam hati aku selalu berkata 'ingin membeli semua novel ini!!' lalu tersenyum ketika melihat judul-judul novel yang sangat aneh. Ok mungkin bukan aneh ya, tapi agak berlebihan.
Beberapa waktu lalu di sudut itu terdapat kursi kecil, namun sekarang sudah tidak ada. Entah mengapa, mungkin karena banyaknya pengunjung yang sering numpang membaca disana, yah bisa dikatakan aku salah satunya.
Setiap aku berkunjung ke mall-mall toko buku tidak pernah lepas dari pandanganku, karena aku penggila novel, maka pilihanku selalu tertuju pada sudut terbaik yaitu sudut yang memuat banyak novel.
Thursday, May 17, 2012
Best Corner
Saturday, May 5, 2012
Always There
Bandung, 23.11, on saturday night.
Malam ini lagu Toki wo tomette menjadi pengantar tidurku, sepertinya ini lagu yang tepat buat malam ini.
Ya, toki wo tomette dalam bahasa Jepang yang artinya please stop the time. Aku rasa mewakili perasaanku yang sangat menginginkan waktu berhenti, walaupun sebentar, untuk menikmati indahnya tawa dan canda bersama para sahabat. Ya jika aku bisa mendedikasikan lagu ini buat mereka, sahabat-sabahat yang dikirim oleh Tuhan untuk menemaniku, memberikan warna dalam hari-hariku. Entah apa jadinya hidupku tanpa mereka.
Segala keluhan, tangis, bahkan cerita bahagia yang tidak bosan-bosannya didengar oleh mereka, segala celotehan, candaan, dan tawa yang mereka hadiahkan untuk menghiburku. Tidakkah itu indah? Ya menurutku. Dan mereka, sahabatku, adalah yang berharga. Aku tidak mengerti dari mana kesabaran mereka, dan pengertian mereka muncul dikala kegundahan dan emosi mewarnai hariku. Ya mereka ada disana, tidak berpaling,tidak menjauh sama sekali. Kadang aku malu apabila emosi tiba-tiba datang, secara tidak sadar aku meluapkan kekesalan pada mereka, dan mereka masih tetap disana, memberikan perhatian dan semangat yang tiada henti.
Dan aku sangat beruntung memiliki mereka. Sahabatku. Aku sayang mereka. Tuhan, bantu aku untuk melindungi para sahabat yang selalu ada untuku, jangan pernah berikan jarak bagi kami. Dan jangan pernah jauhkan mereka dari hidupku.
Thursday, May 3, 2012
Prolog II
Ada sesuatu yang ingin ku katakan padamu sejak dulu. Sampai sekarang aku belum mengatakannya karena... yah, karena berbagai alasan. Dan alasan utamanya adalah karena aku takut.
Kalau aku mengatakannya, reaksi apa yang akan kau berikan?
Apakah kau akan menerima pengakuanku?
Apakah kau akan percaya padaku?
Apakah kau masih akan menatapku seperti ini?
Tersenyum padaku seperti ini?
Atau apakah justru kau akan menjauh dariku?
Meninggalkanku?
Tapi aku tahu aku harus mengatakannya padamu. Aku tidak mungkin menyimpannya selamanya. Entahlah bagaimana reaksimu nanti setelah mendengarnya, aku hanya berharap satu hal padamu.
Jangan pergi dariku.
Tetaplah di sisiku.
(kutipan dari novel Ilana Tan)
Dan sebenarnya aku masih tidak mengerti, beberapa prolog ini bagaikan cermin yang memiliki kekuatan untuk menamparku. Seakan kata-kata ini sengaja diciptakan untukku. Ditulis dengan penuh kesedihan. Dan ini Untukmu. Kau yang mulai sedikit perubah.
Tuesday, May 1, 2012
Prolog
Konon, ketika seseorang dalam keadaan hidup dan mati, ia akan bisa melihat potongan-potongan kejadian dalam hidupnya, seperti menonton film yang jelas alur ceritanya. Benarkah itu?
Oh ya, aku sedang mengalaminya. Ketika tubuhku terlempar ke sana-sini, pandangan mendadak gelap, namun anehnya aku kemudian bisa melihat wajah seseorang dengan jelas. Aku juga bisa mendengar suaranya.
Betapa aku sangat merindukannya sekarang, ingin bertemu dengannya, ingin berbicara dengannya. Ada yang harus aku katakan pada orang itu. Aku harus memberi tahunya aku rindu. Hanya sekali saja...
Kalau boleh, aku ingin mengatakannya sekali saja...
(kutipan prolog novel Ilana Tan)
Sebenarnya memang itu yang ku rasakan, seperti penggalan prolog itu, aku merindukanmu... Dan tidak bisa mengabaikan prasaan yang menyiksa pikiran ini.

