"this is my December,
this is my time of the year."
"this is my December, this is all so clear."
"this is my December, this is all so clear."
Yang menebak itu lagunya Linkin Park, benar!
Lagu itu seakan membuka kembali memori lama, tepatnya ketika aku SMP.
Masa-masa remaja itu memang paling indah, apalagi saat SMP, disaat puberitas, masa menemukan jati diri.
Masa tidak pernah mengenal istilah capek, takut, dan hanya menikmati saat-saat bermain.
Aku ingat pada masa itu aku adalah seorang anak perempuan yang tomboy,
memakai baju yang serba gombrang, kaos oblong hitam, ya aku sangat ingat isi lemari ku yang hanya berisi kaos-kaos hitam, jeans belel, celana pendek, kaus kaki, sepatu basket, ya semua yang dipakai oleh anak laki-laki.
Bukan hanya pakaian, bahkan aku mengikuti ekstra kulikuler basket, tiada hari tanpa basket, panas terik matahari Pekanbaru sudah menjadi santapan sehari-hari untukku.
Pergi sekolah jam 6.30 pagi dan pulang jam 6.30 sore, itu menjadi hal yang sangat biasa untukku.
Apa yang aku lakukan selama 12 jam itu di sekolah selain belajar? Basket!
Ya aku mengabdikan diriku pada kegiatan yang membiasakanku berbaur dengan terik dan keringat itu selama hampir 3 tahun. Bisa kalian bayangkan bagaimana keadaanku sepulang sekolah,
Ya bau matahari, kulit terbakar matahari, pulang tidak lagi memakai seragam sekolah melainkan kaos belel dan celana pendek, serta tak lupa bola basket Chicago Bulls kuning kesayanganku yang merupakan pemberian dari papa.
Aku sendiri suka merasa heran, karena tak ada sedikitpun rasa capek yang aku rasakan pada saat itu,
setiap hariku hanya semangat untuk kesekolah dan bermain basket,
oh baiklah aku lupa, alasan dibalik basket itu sebenarnya adalah ngecengin senior basketnya, hahaha
ayo ngaku, siapa yang punya pengalaman sama denganku.
Latihan basket setiap hari, bahkan membawa bola basket kemana-mana hanya untuk menarik perhatian para senior basket hingga kaptennya,
Jika mengingat itu aku hanya tersenyum sendiri, ya Tuhan norak memang, aku juga mengakuinya.
Masa SMP itu lebih bermakna bagiku, karena pada saat itu hidupku hanya bermain, basket, dan mencari eksistensi diri, memperbanyak teman. Ya itu yang terpenting, karena teman adalah segalanya untukku.
Dan Kelas 2.8, adalah kelas terakhir di sekolahku. Biar saja kelas lain menganggap kelasku ini kelas terakhir, tapi kenangan yang ku dapatkan disana mungkin tidak akan pernah ku dapat jika berada di kelas lain di sekolah itu.
Ngeliatin kakak kelas yang mondar mandir di depan kelas, di jemur 2 kali satu kelas, dimarahi guru seakan-akan hal itu bukan menjadi mimpi buruk lagi.
Pada saat kelas 2 itu lah saat aku dan teman-temanku saling bersaing untuk memperoleh popularitas, mencari teman sebanyak-banyaknya disemua kelas, hingga mengikuti ekstra kulikuler yang paling populer.
Ya Tuhan, jujur saja aku ingin mengulang masa SMP itu, hmm baiklah, mungkin saat bermainnya saja bukan belajarnya, haha
tapi belajarnya juga sangat penting, mengingat aku dulu pernah divonis tidak lulus SMP!
Jadi sekarang aku hanya ingin berpesan, seindah apapun dan semenyenangkan apapapun masa SMP, tetap belajar lah yang seharusnya menjadi prioritas, karena akan lebih baik jika kita mendapatkan popularitas dengan otak yang berisi dan dapat dibanggakan.
Aku juga sangat ingin bersyukur dan berterimakasih kepada semua yang menciptakan kenangan SMP yang terindah itu, kepada Tuhanku yang memberikan semua itu, kepada orang tuaku yang memberikan kepercayaan padaku dan memberikan kebebasan padaku untuk berteman, dan tentunya teman-temanku, karena tanpa mereka kenangan itu tak akan pernah ada dan tak akan pernah seindah ini.
No comments:
Post a Comment