Saturday, May 4, 2013

Noisy Saturday

Saturday, May 4, 2013. 16:26.

Sabtu yang bisa dibilang cerah! Sore ini aku bisa melihat langit biru dan awan putih yang bersinar. Sepertinya tidak terlihat tanda-tanda awan kelabu akan datang, ya aku senang.
Suasana diluar kamar kecilku inipun cukup meriah, terdengar anak-anak bermain, bercanda, dan berteriak dengan riang, aku rasa mereka juga tengah menikmati suasana sore.
Ini ajaibnya Bandung, setiap sabtu tidak pernah terlihat akan turun hujan, dan cenderung panas. Aku pernah membicarakannya dengan salah satu temanku, dan mempertanyakan mengapa.
Mungkin saja para pemilik factory outlet dan cafe disini menyewa pawang hujan setiap sabtu. Ya siapa tau..
Hari ini suara deru knalpot kendaraan tidak terdengar samar-samar lagi, seakan semua orang akan memadati jalanan kota, bisa dibayangkan betapa macetnya.
Apa rencanaku sore ini? Hmm entahlah aku juga belum memikirkannya, biasanya serba dadakan seperti kemarin sore, temanku tiba-tiba datang dan kami pergi ke sebuah cafe yang disana telah ada teman-teman lain berkumpul, dan aku menghabiskan jumat malam berkumpul bersama mereka, menyenangkan memang bercerita, bercanda, dan tertawa bersama.
Ada kah yang lebih menyenangkan dari itu? Tidak. Menghabiskan waktu bersama teman-teman adalah hal yang sangat menyenangkan dan tidak bisa digantikan. Rasanya ingin mengulang momen itu setiap hari, tapi tidak mungkin. Mereka pasti punya acara masing-masing sekarang.
Jadi sore ini aku hanya akan berada di kamar kecilku menghabiskan waktu dengan novel-novel, ditemani dengan jajanan tradisional. Tidak, aku tidak akan mengeluh kebosanan dengan hari ini. Aku punya caraku sendiri untuk menikmati sepi, ah terdengar sangat dramatis.
Baru saja aku ngobrol dengan temanku, aku selalu merasa lebih baik dan bisa tersenyum lagi setelah itu. Ya walaupun hanya pembicaraan ringan dan selalu dibarengi dengan candaan. Merencanakan hal-hal yang menyenangkan yang mungkin suatu saat akan dilakukan. Ya tidak ada salahnya kan merencanakan untuk bersenang-senang.
Jadi, nikmati dulu saja hari ini, hari sabtu yang cerah. Semoga sabtu malam kalian semua menyenangkan teman-teman.

Friday, May 3, 2013

Raindrop Story

Friday, May 3, 2013. 13:10

Siang ini ditemani french vanilla coffee, aku mendapati blog yang sudah berdebu.
Sebenarnya sejak lama aku ingin mencoretkan sesuatu di blog ini, tapi aku bingung memulainya. Seakan suara dipikiranku pergi, terbang, dan melayang begitu saja.
Bahkan sampai detik inipun aku tidak tau harus menulis apa.
Aku masih berada di dalam ruang yang sempit, aku melihat sekelilingku, tetap tidak ada sesuatu yang menginspirasiku.
Hanya pemandangan langit kelabu yang terlihat dari jendela kamarku, dan ini tidak terlalu menyenangkan.
Tadinya aku berharap mendapati pemandangan langit yang biru dengan bercak putih, awan.
Aku masih mencari sedikit cahaya disela awan kelabu, ternyata tidak ada.
Jumat yang ku harapkan akan cerah ternyata tidak ada, awan kelabu berlomba-lomba memenuhi birunya langit.
Kalian tau apa yang akan terjadi dimenit berikutnya, ya..
Dalam hitungan detik gemuruh pasti datang, ya ada cahaya, kilatan, tapi bukan cahaya itu yang ingin ku temui.
Beberapa hari ini selalu seperti itu, siang tanpa matahari. Bandungku lagi tidak bersahabat.
Saat ini aku dapat mendengar titik hujan yang mulai menapaki bumi, semakin lama semakin ramai. Ya hujan siang ini akhirnya turun.
Aku masih terjebak diruang sempit ini, dengan suasana yang sepi dan dingin, terdengan suara kendaraan berlalu lalang dari kejauhan, tapi tetap sepi, tak ada suara anak-anak kecil bermain seperti biasanya, hanya hujan yang berlomba-lomba menyerbu atap rumah.
Angin dingin memburu memasuki ruangan melalui jendela kecil disampingku dan membawa beberapa titik hujan yang seakan ingin menerobos kedalam ruang ini.
Aku hanya melihat mereka menari dibalik jendela, dan merasakan aroma hujan yang sebenarnya sangat ku sukai.
Tidak! Aku tidak akan keluar menemani mereka menari.
Kemudian aku kembali diam, mengabaikan tarian hujan, namun mereka sekarang bernyanyi, ya nyanyian hujan yang seakan-akan memaksaku mendengarnya, semakin keras dan lantang suara itu.
Aku masih mengabaikannya, mereka terdengar marah dan mulai marah dan terus memaksa, namun aku tidak bergeming.
Aku menutup jendela, dan mereka semakin marah, terdengar seperti mengetuk-ngetuk jendela dan memaksa ingin masuk, ketukan yang semakin cepat dan keras.
Aku menutup telinga dengan bantal, akhirnya merekapun menyerah, mereka pergi dari jendelaku dan menjauh, mereka capek, dan aku hanya tersenyum. Mungkin saja mereka pergi mencari jendela lain dan memaksa siapapun menemani mereka bermain.